ternyata belakangan saya tahu bahwa ada beberapa hal yang "tidak seharusnya" yang saya lakukan.
Berkurang 25% karena ternyata yang membuat saya lulus bukanlah karena artikel yang saya pikirkan dengan matang, yang saya tulis hingga pukul 3 pagi tersebut. Tapi ada "tangan-tangan" lain yang membantu membuatnya agar lebih mulus. Kasarnya: LOBBY. Sungguh ini tidak membuat saya senang karena merasa saya cukup berharga untuk diperjuangkan melalui lobby, tapi saya sedih karena ternyata saya tidak cukup berharga untuk diperjuangkan lulus melalui jalur yang biasa.
Saya ingin mencoba untuk lulus tanpa ada embel apa-apa. Ingin menilai apakah saya yang hanya pengurus di institusi bisa dinilai "lebih" dan layak mengikuti acara skala nasional, meski belum merasa berkontribusi apa-apa di kepengurusan nasional. Saya tidak kenal siapa itu Mas Faza, Mbak Ima, Mas Saddam, atau yang lain. Saya tidak mengharapkan mengenal mereka ketika saya sedang membutuhkan mereka. Saya tidak ingin mereka mengenal saya karena saya adalah teman si "anu" atau si "dia". Saya ingin mereka mengenal karena saya adalah ENGGAR, pengurus BEM di FK Unsri, yang kekeuh ingin ikut LKMM meski tanpa rekomendasi dari wilayah, tanpa sertifikat LKMM Wilayah, tanpa memegang jabatan sebagai pengurus harian nasional atau wilayah, ataupun sebagai tunas yang baru tumbuh untuk memangku jabatan di periode selanjutnya.
Maaf kalau tutur kata di sini agak menyakiti, namun entah saya agak jengah dengan "LOBBY". Lobby yang bersifat individu, yang memenangkan seseorang lebih dari yang lain. Yang bisa mulus bila sudah berteman baik. Yang memanfatkan rasa "dak kelemakan" kalo ditolak. Jengah, sungguh. Sistem ini harus diubah! Kalo tidak, sangat bisa berujung kepada nepotisme ketika memegang kekuasaan saat bekerja nanti.
kebahagiaan lalu berkurang lagi 20%: karena Aan, yang juga berjuang di seleksi ketiga, yang mahasiswa 2010 ternyata tidak lulus. Ini karena kesalahan saya, yang terlambat menghubungi, yang salah menghubungi Aan, sehingga dia terlambat mengirimkan berkasnya, dan tidak bisa diseleksi. belakangan saya tahu bahwa panitia harus menyeleksi antara saya atau Aan yang lulus. Harus hanya satu. Dan saya sedih kenapa saya "merampas" jatah Aan yang pasti jauh lebih membutuhkannya ketimbang saya yang sebentar lagi akan pensiun jabatan. Kenapa seegois itu. Kenapa tidak memikirkan mereka dulu.
Tapi, setelah dikonfirmasi lagi ke pihak panitia, di usahakan bagaimana caranya Aan bisa ikut seleksi, alhamdulillah dia diperbolehkan mengirimkan berkasnya. Dan kemarin Habibi mengabarkan dia lulus. Alhamdulillah, 20% kebahagiaan itu tidak jadi hilang:)
Hilang 10% lagi, karena ternyata saya mengorbankan banyak hal untuk berangkat ke sana. Adik saya yang mungkin membutuhkan uang itu untuk daftar masuk les, lalu beli buku-buku tulis dan pelajaran. Lalu saya yang akan absen di rumah, tidak berkontribusi apa-apa. Lalu peralatan tulis adik saya yang harus disampul rapi, di tulisi nama, semuanya harus dikejar sampai sebelum saya berangkat. Ditambah tidak bisa menemani Liza mempublikasikan poster SMSO ke Akbid dan Akper di palembang. Gantinya saya mempromosikannya di Malang nanti.
Dari 60% kebahagiaan itu masih tersimpan: bisa mampir ke Jakarta, nyebar proposal SMSO dan syukur-syukur kalo bisa mampir di acara Apa Kabar Indonesia dan sedikit promosi. Lalu promosi SMSO juga di Malang. Dapet ilmu dan bisa berdiskusi dengan orang-orang hebat di sana. Bisa beli oleh-oleh untuk keluarga dan teman-teman. Ibu saya ngidam pengin minum Sari Apel. Dan bisa jalan-jalan di jawa karena kami naik kereta. Belum pernah pergi jauh dengan Zindha, dan inilah saatnya! Lalu perjalanan ini akan kami rekam, dipresentasikan saat cultural night nanti sebagai hasil kerja Humas dan Danus.
Semangat! Semoga hasilnya sebanding sebagaimana stem fremitus yang getarannya sebanding dengan kerja alveolus. Viva SMSO!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar