Home alone membuat hutang budi bertumpuk

Kemarin abang saya yang di Surabaya -Abang Wahyu- menelpon, katanya beliau baca blog ini. Beliau juga punya blog, tapi sumprit isinya bedaaaaaa jauh. Jauh lebih berbobot blog saya, haha (padahal yang sebenarnya kebalikannya). Sempat beliau bilang "mumpung masih muda, isilah blog dengan yang bermanfaat". Haha, saya hanya tertawa. Saya terbayang bila blog ini pun harus diganti dengan hal-hal serius, tentang kedokteran, tentang pola pikir, tentang hal-hal berat lain, wah.. dimana lagi saya harus menuangkan sampah-sampah pikiran ini? Sampah yang tidak dibuang akan menumpuk dan membusuk. Sampah harus dibuang. Dan inilah tempat sampahnya.

Oke, while they're gone.. apa yang saya lakukan? Banyak hal. dan mungkin semakin banyak hal yang saya lakukan, semakin banyak saya harus mengucapkan terima kasih pada orang-orang yang terlibat di dalamnya.

Hari kelima tanpa orang tua. Segalanya terasa berbeda, tapi ternyata ada yang menggantikan posisi mereka untuk saya.

Pakwo, Makwo, (kakak dari Ayah) kakak Sepupu. Tiga hari di rumah mereka, memaksa saya nonton Metro TV sepanjang hari (terselamatkan karena bisa plesiran di internet). Saya tidur di kamar Almarhum Nenek, yang sangat suka kucing. Karenanya, di kamar itu saya tidur dengan kucing, dia menggigiti gantungan hape, charger laptop, dan charger hape saya. Pakwo makwo memperhatikan, cemas kalo saya makan sedikit, haha.. Terimakaih untuk mereka.

Hadi, si supir travel (haha, piss di. yang pertama kali ngomong itu bukan aku, kan?) , mungkin sudah merasa luar biasa repot karena kehadiran saya. Ini karena rumah kami dekat. Pergi kuliah, pulang ke rumah, ke Bukit untuk ikut SOCA, pulang ke kostan, ke sana, ke sini, bahkan beli obat nyamuk untuk di Kostan Vera, semuanya dia yang temani. Membantu mengangkut barang-barang saya (baju, buku, dll) dari Kostan Vera ke rumah saya (kebetulan ada surat yang harus diselesaikan di hari saya pulang ke rumah), sampai harus bertemu dengan Pakwo dan menjelaskan kepada beliau kenapa kami pulang malam agar tidak terjadi kesalah pahaman. Ditambah juga tugasnya sebagai danus SMSO yang menemani ke Gubernur, IDI, sampai menyempatkan ke Pasar Sekanak untuk sekedar menemani beli pempek, titipan teman-teman BB saya. Hadi yang check list OSCE plus modemnya hilang saat jam 9 malam satu malam sebelum OSCE, yang akhirnya saya bantu fotokopi dengan printer saya, lalu dia datang jemput fotokopian itu, ditukar dengan sebungkus roti bakar (dihabiskan pakwo, makwo, kk sepupu. aku nyicip sedikit karena takut tambah gendut).

Lalu Vera Oktapiani yang sangat baik. Menyediakan rumahnya untuk saya tinggali selama 2 hari. Belajar di sana, makan di sana, dan kami berdualah yang meladeni telpon dan SMS dari teman-teman ketika mereka stuck saat belajar tentang sesuatu. Vera menemani beli peralatan tulis untuk MCQ. Yang menyediakan kasurnya untuk saya tiduri. Berbagi makan dan semua perlengkapan yang dia punya. Dua hari menginap di kostan Vera sama dengan dua hari penuh Vera direpotkan.

Selanjutnya teman-teman lain yang seru dan asik-asik. Lora, PJ, Hakim, Firdaus, Ama, Tara, Wali, Orin. Komunitas baru bersama mereka. PJ dan Wali yang malam MCQ mampir ke kostan Vera untuk fotokopi ringkasan skenario yang tidak sempat difotokopi saat BB kemarin, lalu pulang-pulang membawakan kami roti bakar juga. Menemani saat membuat artikel tentang ISMKI sampai jam 3 pagi. Orin yang ternyata biasanya “mojok” di teras kostan Vera di malam hari bersama “ehem”nya, akhirnya membatalkan kebiasaan itu karena di kostan Vera sedang ada Hadi, saya, dll yang sedang membuat surat pernyataan sikap SJSN.

Semakin lama home alone, semakin banyak hutang budi. Lewat tulisan ini saya ingin menyampaikan rasa terima kasih, yang mungkin menurut kalian hanya main-main, padahal ini serius (serius loh, liat muka aku serius cak ini). Terima kasih :)

Tidak ada komentar: