Kritik Esaiku, menuju BALI

Dari beberapa jam yang lalu aku meminta tolong beberapa orang untuk mengkritisi esai yang aku buat. Sungguh aku hakul yakin tak akan menang bila esai ini tetap seperti ini. Maka aku meminta ke Agus Mahendra, Abdurrahman Hadi, Vivi Kurnia, Hafiz Hari Nugraha, dan Nanda Julian. Mereka yang kebetulan online fb, dan kebetulan kukenal baik sebagai pribadi yang kritis. Nah, sampai saat ini yang telah mengkritisi adalah Agus dan Hafiz.

Dan kritik Hafiz, seperti biasa sangat luar biasa. Ini katanya:
sebelumnya saya minta maaf terlebih dulu, saya sebetulnya kurang setuju juga sama essay ini, mungkin karena ada perbedaan perspektif antara kita. Kritik itu mudah, orang seperti saya yang hobinya kritik itu orang gampangan, saya tahu enggar pasti kerja keras membuat essay ini, jadi saran saya sih abaikan saja tulisan saya ini. Maju terus! Hahaha

Masuk ke substansi :

Saya memiliki analogi yang berbeda, Menurut saya apa yang dilakukan polisi kepada anak jalanan sama sekali bukan terapi simptomatik dengan pemberian ponstan, saya lebih melihat itu sebagai respon imunitas tubuh terhadap antigen, atau mungkin mulai cenderung menjadi penyakit autoimun. Jadi sangatlah wajar apabila respon itu kasar dan keras, selayaknya respon inflamasi. Sama sekali tidak menghilangkan nyeri bahkan membuat kondisi yang lebih buruk.

Multi-system based, briliant, hanya saja menurut saya pribadi ada yang kurang, family, community, institute, lantas dimana peran serta pemerintah? karena menurut saya pribadi family,community, dan institute itu effect nya terlalu kecil dan tidak dapat mengobati secara keseluruhan. Kemiskinan dan anak jalanan sudah menjadi permasalahan Nasional, pergerakannya tidak lagi mengakar di tatanan lokal saja. Kalo seandainya ada peran dari pemerintah akan lebih sempurna multi-system based ini.

Sekian. :)
Gila. Keren, kan? Orang seperti dia harusnya yang ikut lomba ini, bukan aku. Selain itu, ada juga kritik dari Mahe. Dia juga hebat. Katanya :

1. mnrt aq kalo mw buat presentasinya nanti boleh saja menghubungkan obat n penyakit tp jgn terlalu banyak cz nanti topiknya beda n tujuannya g tercapai
2. trus kalo mslh penulisan kaek EYD udah baik trus uda sistematik koq tp hrs konsultasi sedikit aja dgn ahli bahasa.
3. trus mslh substansi mungkin udah bagus tapi,, hrs lbh banyak menyoroti khdpn anjal n pengemis cz dari taon ke taon populasinya berbeda2,, jd mngkin observassi ke jalanan g ada salahnya c buat menambah data adequat


Luar biasa sekali. Senangnya memiliki sosok-sosok seperti mereka di sekitarku. Nanda janji jam 11 mengirimkan kritiknya, sedangkan Hadi dan Vivi masih kutunggu. Besok aku berencana menghadap Dr. Mutiara Budi Azhar. Doakan semoga esaiku memperoleh tempat terbaik.

aku telah memutuskan untuk bahagia, inilah wujud kebahagiaanku..

2 komentar:

Enggar Sari Kesuma Wardhani mengatakan...

setelah mengcopas, font nya jadi aneh.. haha.. maaf ya membuat anda jadi tak nyaman membaca

Enggar Sari Kesuma Wardhani mengatakan...

tambahan lg dr hafiz pas aku tanya:
"peran pemerintah yg seperti apa?"

Peran pemerintah itu banyak sih,bisa dukungan terhadap yayasan-yayasan itu, yang penting dalam hal pendanaan dan penyediaan fasilitas..
Perbaikan ekonomi negara bukan sekadar di atas kertas, karena ekonomi yang benar-benar tumbuh sehat itu tidak akan menghasilkan kesenjangan sosial
Pengawasan terhadap institusi kepolisian dan satpol pp yang kasar itu
Memaksimalkan peran nya sebagai tukang perintah lah, haha
Karena ini masalah kemiskinan ya balik lagi ke ekonomi sih, indonesia ini yang kaya makin kaya, yang miskin tambah sengsara..

bew, lancar nn kalo ngomongin politik..