Kalian tidak akan bisa

bismillahirrahmanirrahim..

Mengapa sering mengawali tulisan dengan kalimat itu? Karena jauh dalam lubuk hati saya menyadari, apa yang saya tulis mungkin tidaklah untuk sebuah kebaikan. Dan kata itu seolah sebuah doa, agar segalanya menjadi lebih baik. Sedikit membuat hati menjadi tentram. And it always works.


Saya percaya semua akan baik dan indah pada waktunya. Tulisan ini dibuat dalam sebuah kelelahan dan kantuk yang sesat, yang mungkin tidak akan kalian mengerti, karena keterbatasan kemampuan linguistik saya mengungkapkannya. Dan penyadaran saya akan keegoisan saya sungguh tidak mengubah sifat ini menjadi hilang. Sebuah egoisme yang gila, yang sangat menyebalkan. Sebal sifat itu ada pada diri saya.

Bagaimana rasanya menjadi seorang korelis? Korelis-sanguinis? Bagaimana rasanya menjadi perfeksionis? Menjadi seorang permisive? lalu kritis? Sumprit, kesal dengan diri sendiri yang tidak konsekuen.

mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu lakukan?

Sejak kapan saya menjadi permissive seperti ini? Sejak saya tahu ayat tersebut? tidak. Sejak saya merasakan bagaimana sulitnya berada di posisi mereka. Lalu, apakah itu salah? Toh, saya pun tidak bisa melakukan hal yang lebih baik dari yang pernah mereka lakukan, lantas, pantaskah saya mengkritisi apa yang telah dilakukan mereka?

Saya bilang tidak ingin mengorbankan apapun hal-hal yang telah menjadi prioritas demi paper EAMSC ini. Tapi nyatanya saya mengorbankan AMSA. Kalian tidak perlu tahu apa, kutuk saja saya. Dan jangan hentikan saya. Kalian tidak akan bisa.

Tidak ada komentar: