lelah

Bismillahirahmanirrahim..

Tulisan ini dibuat dalam keadaan lelah. Pukul 00.09 tanggal 16 Juli 2011. Disela-sela memperbaiki proposal SMSO dan Seminternas untuk diberikan pada DIKTI di Jakarta nanti. Besok adalah jadwal keberangkatan pesawat saya dan teman-teman lain, sekaligus Raker Kimia dimana saya harus mempersiapkan presentasi tentang beberapa materi dalam raker itu, mempersiapkan berkas-berkas yang akan disebar ke Jakarta, sekaligus packing barang-barang yang akan saya bawa selama 1,5 minggu itu.

Tulisan ini dibuat dengan kelelahan, maafkan kalau isinya buruk, sebagian besar alasan untuk menulis ini adalah agar segala peluh dan kesah bisa tersalurkan dengan cara yang baik, tidak mengumpat, dan semoga bisa dibaca untuk selanjutnya sehingga saya bisa introspeksi seburuk apa diri saya ketika sedang lelah.

Apa yang dikatakan Kak Franz memang benar!
Kita hanya bisa sebatas mempercayai orang lain. Percaya bahwa semua orang bisa berubah. Dan akan ada suatu masa dimana semua orang akan pergi meninggalkan kita, dan hanya tinggalah kita sendirian berdiri, dan itu pun karena kita tidak ikut-ikutan "menyimpang". Saya tidak menyalahkan mereka. Toh berlibur itu fisiologis, dan memang sudah saya katakan, jiwa perfeksionis ini yang menyulitkan, menuntut segala output yang dihasilkan adalah hal-hal yang dihasilkan dengan menarik diri semaksimal mungkin. Saya tidak salahkan mereka yang dengan keterbatasannya, menghalangi mereka untuk membantu saya. Sedang saya disini, dengan segala keterbatasan yang ada, menarik diri untuk menghasilkan output sebaik mungkin. Sebagian besar karena saya benci untuk menyesal, bila hasil yang keluar tidak maksimal, karena saya tidak menarik diri semaksimal mungkin saat mempersiapkannya.

Ini pekerjaan besar, dan saya sedih karena mengerjakannya sendiri. Bukan pamrih, bukan. Tapi, hal-hal yang seharusnya kita diskusikan dengan bahagia, justru saya putuskan secara diktator, dengan pilihan saya sendiri. Pilihan yang mungkin (sangat mungkin) tidak sesempurna bila dirembukkan bersama-sama.

Sekali lagi ini tulisan ini dibuat saat saya harus memperjuangkan menyelesaikan 2 buat proposal dikti sesegera mungkin, agar dapat diserahkan ke DIKTI besok/lusa. Begitu banyak hal yang harus diperbaiki. Dan hal-hal kecil itu sebagian membuat saya lelah. Bukan lelah untuk berusaha, tapi lelah karena menyadari hal-hal sekecil itu mungkin bisa dilakukan oleh orang yang memang sudah sepantasnya mengerjakan itu.

Dalam rasa lelah,
dibalik dengkuran dan selimut hangat adik saya, dan suara televisi yang menemani kami

Enggar Sari Kesuma Wardhani

Tidak ada komentar: