Untitled.

Bismillahirahmanirrahim..

Semoga kamu sempat membaca tulisan ini, meskipun semua akses untuk menujunya telah saya blok. Saya tidak ingin ini menjadi salah paham dan terus menerus hingga fase kronis. Selama ini saya tidak memiliki kakak. Saya cukup nyaman dengan tidak memiliki kakak. Tapi kamu datang, menawarkan saya menjadi adikmu, dan saya belum mengatakan iya. Saya tidak nyaman dengan panggilan itu, tolong hentikan. Kita berteman biasa saja, ya..

Selama ini saya menganggap feedback yang saya berikan hanyalah standar saja. Saya balas sekenanya apa yang kamu sampaikan kepada saya. Tapi sungguh saya tidak mengira kamu menganggapnya lebih. Kamu ceritakan pada semua orang, dan saya berada pada posisi serba salah. Saya tidak ingin mereka yang duluan tahu bahwa tidak ada apa-apa antara saya dan kamu. Saya tidak ingin menjadi fitnah. Sempat saya abaikan kamu beberapa minggu, tapi justru saya merasa bersalah, seolah saya memusuhimu karena perasaanmu. Tidak ada yang perlu disalahkan tapi memang ada beberapa hal yang harus diluruskan.

Selama ini saya menghindari bertemu. sadarkah? saya menghindarimu. Saya tidak datang karena saya punya firasat kamu akan ada disana. Saya mengapatiskan diri, saya berhenti peduli, karena saya tahu dampaknya pada dirimu. Saya peduli padamu, tapi dengan cara yang lain. Tidak menjurus pada itu.

Pertolongan darimu, selalu datang saat saya butuh. Banyak harus saya tolak, saya tidak ingin ini membuat saya menjadi tidak objektif memutuskan langkah saya. Jangan tersinggung, saya tidak ingin merasa berhutang budi padamu. Itu akan membuat saya jauh lebih berat. Maafkan penolakan saya.

Dan malam ini, saya berusaha dengan kemampuan saya yang sangat terbatas, untuk menyadarkamu. Tolong, berhenti merokok. Bukan demi saya, tapi demi masa depanmu sendiri. Tak ada yang bisa saya janjikan bila kamu memenuhi permintaan ini. Hanya Allah yang tahu apa yang akan kamu dan saya lakukan. Hanya saja berdasarkan data kedokteran, kamu akan menjalani hidup yang jauh lebih berkualitas. Hidup yang akan jauh lebih bahagia.

Ini adalah paragraf terakhir. Terima kasih telah bersedia membaca sampai pada bagian ini. Maaf bila saya terkesan defensif, dan memang hanya Allah yang tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Tapi, untuk saat ini saya tidak. Saya ingin menjaga hati saya. Saya ingin hijab dulu. Saya ingin membiarkan Ayah untuk mengambil hak ini untuk saya. Terimakasih sudah mencemaskan saya, dan memperhatikan saya. Terimakasih sudah mencoba menjadi kakak yang baik untuk saya.



dari yang tidak ingin dipanggil "itu",


Enggar

Tidak ada komentar: