Hai jiwa pesimis! Sedang ingin menonjolkan dirimu hari ini. Estrogen saya sedang tinggi-tingginya. Saya sedang PMS. Ini waktu yang tepat untukmu dibawah spot cahaya. Keluarlah!
Hidup memanglah roda. Dan roda akan berputar. Dulu Adit sempat bertanya pada saya, “Enggar, kamu pernah gagal gak sih?” Pertanyaan bodoh. Ya jelaslah. Semua orang pernah gagal, apalagi orang seperti saya. Dan saat ini roda kehidupan saya berada pada fase akut.
Segalanya diawali tahun 2011. Sedih bila diingat. Saya mengecewakan Hadi dan Adis. Lalu Emelda dan Ashita. Lalu Wetek. Mungkin inilah karmanya. Segalanya menjadi berubah. Dan saya terpuruk. Malu pada diri sendiri, ingin lari sejauh-jauhnya.
Keterpurukan diawali dengan tidak lulus LKMM Nasional gelombang I. Dan sekarang, gelombang II pun tidak. Sudah habis harapan saya untuk bisa menimba ilmu di LKMM. Padahal, tujuan saya untuk hadir disana benar-benar murni untuk mencari ilmu. Saya tidak ingin jalan-jalan. Saya ingin belajar, saya ingin membawa pulang oleh-oleh ilmu untuk teman-teman dan anggota magang. Saya ingin memperbaiki tatanan organisasi di FK. Saya ingin berguna! Sedih dan ironis bila membayangkan yang lain senang, karena bisa jalan-jalan ke Malang, tanpa memikirkan ikut LKMM ini untuk apa dan siapa.
Lalu, lalu, rencana telah disusun. Kami akan transit di Jakarta dan menyebar proposal di sana. Proposal SMSO. Hafiz sudah bersedia membantu. Benar-benar sudah terbayangkan akan berlelah-lelahan di sana. Dan rencana saya pun terpaksa batal. Tidak mungkin meminta mereka (Zindha, Hadi, Hafiz) yang menyebar proposal SMSO ke sana. Tidak mungkin membiarkan mereka lelah sementara saya termangu di Palembang. Tidak mungkin juga saya akan ke Jakarta hanya untuk menemani mereka menyebar proposal. Lalu bagaimana hal paling memungkinkan dari yang tak mungkin tersebut?
Hai, jiwa pesimis. Mendekatlah. Kita berdamai hari ini.
Bila dipikir-pikir, mungkin motivasi saya ikut LKMM kurang “wah”. Saya hanya ingin berkontribusi untuk Unsri. Mungkin yang lain ingin berkontribusi ke ISMKI. Mungkin yang lain sudah dikenal oleh panitia penyeleksi, sehingga mereka tahu bahwa orang-orang ini “bagus”. Dan saya tahu memang ada mekanisme yang terjadi seperti itu. Lalu bagaimana nasib saya yang ingin belajar ini? Bahkan untuk belajar pun saya tidak lulus seleksi. Menyedihkan jadi saya.
Sekarang saya PMS. Segalanya jadi terlihat buruk. Termasuk berita ini. Sungguh sedih sekali. Dan ini terjadi ketika saya sedang mendekati ujian. Sungguh sedih, sedih, sedih. Rasanya ada sebagian detak jantung yang menjadi gallop dan saya menjadi sesak. Benar-benar malu menampakkan diri besok dihadapan Hadi, Zindha, Hafiz, Habibi. Malu sekali. Saya tidak sederajat dengan mereka. Mereka orang-orang terpilih. Yang saya tidak termasuk di dalamnya. Mereka hebat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar