Ini teguran

Hari ini handphone saya nyaris hilang. Saya sudah memvonis hape hilang selama 3 jam lebih. Sudah memberi tahu orangtua, sudah planning untuk mengalihkan uang gajian untuk beli hape baru, menunda keinginan membeli kamera. Sudah membayangkan ingin pinjem hape Vera untuk beberapa hari sebelum beli hape baru. Sudah terpikir untuk beli nomor XL dan ambil paket gratis SMS satu bulan setelah isi 20.000. Lalu memposting di status FB, forum SMSO, twitter, dan mengabarkan Kak Iskandar tentang nomor baru saya. Yah, semuanya sudah saya rancang.

Semuanya berawal dari rasa canggung. Canggung bertemu Fadeg, padahal satu ruang tutorial. Merasa aneh dia tidak menunggu saya untuk sama-sama keluar dari ruang tutorial itu. Saya bingung apa ada yang salah. Lalu bertemu Vera. Fadeg dan Vera seharusnya membantu magang hari ini. Tapi mereka entah kemana saat saya sedang sibuk mengejar tanda tangan Dita, Agus, dan PD3, untuk dibawa Zindha ke Graha Sriwijaya Hotel. Belum lagi anak magang yang bingung mengurus LKTI yang saya bebankan pada mereka. Lalu, tugas histologi yang belum dijilid. Lia curhat tentang dokcil (saya dengarkan disela-sela menstaples surat-surat SMSO). Lalu magang sampai jam 4 lebih.

Semuanya itu membuat saya melupakan hal-hal kecil seperti handphone. Baru sadar setelah mampir ke ATM mandiri untuk mentransfer beberapa uang saya disana ke kartu BNI saya yang saldonya 0. Cari-cari hape karena disana tersimpan nomor rekening BNI saya. dan sadar bahwa si hape gak ada di tas!

Akhirnya kembali ke Madang, menyusuri semua tempat. Tanya ke semua orang yang ditemui. Kembali ke ruang PD3, ubrak abrik sekret BPPM, tanya kak Bian, Pak Denan, mbak Kantin. Tapi NIHIL. Sedikit curiga dengan tempat fotokopian, tapi karena tutup, tidak bisa dieksplorasi.

Sempet pinjem telepon kakak yang jaga parkir, telepon Mbak Ani yang jualan Jus, tapi tetap beliau gak tahu tentang hape itu. Kak Bian sudah beri prognosis malam, karena sama kabarkan kedua hape itu tidak aktif setelah dicoba telepon. Tapi sayalah yang tahu hape saya sendiri. Hape yang Sony Ericson ini lowbat karena dari pagi saya eksploitasi mendengarkan musik saat mengerjakan tugas Histologi. Hape Esia yang umurnya sudah sepuh sering mati sendiri. Wajar kalau keduanya mati. Lalu, saya pulang dengan lemas.

Sampai rumah, sadar bahwa Ibu saya sedang berpuasa. Tidak mengabarkan dulu. Cuma diam, comot handphone yang ada dirumah dan mencoba menghubungi Mbak Ani lagi. Menghubungi hape saya sendiri, dan SMS Zindha, minta tolong jarkom, siapa tahu ini adalah keisengan teman. (akhir-akhir ini banyak yang suka menyembunyikan handphone saya). tanya nomor Hape Mbak Tika ke Zindha.

Ayah pulang, langsung tanya: "kakak tadi pulang naek apo? kok ayah telpon dak diangkat, SMS dak bales?"
saya : "hapenyo... dak tau dimano..."
ayah : "dak tau dimano maksudnyo?"
Ibu yang lagi buka puasa ikut mendengar dan menimbrung. Jadilah disitu saya ditanya-tanya..

Pukul 7 lebih, handphone dirumah kedatangan SMS. Dari Mbak Tika: "Iyo enggar, hape sony kan? Ado. Besok be yo."
Serasa mau koprol! haha, sangking senengnya, lalu saya yakinkan dengan menelepon beliau. Ternyata benar, tertinggal di tempat fotokopi.

Segera mandi wajib dan sholat Isya. Saya percaya ini adalah teguran. Allah masih sayang saya.

Teguran karena mengabaikan beberapa telepon dan SMS. Sering sekali, malah sengaja mematikan telepon karena risih. Maafkan aku..
Teguran karena mempersulit adekku menggunakan hape. Suka gak punya pulsa padahal mereka sedang butuh disaat penting
Teguran karena males bales SMS. Sumprit males banget ngetik" sms yang cuma bisa pake 2 jari.. mending ngetik keyboard..
Teguran karena macam-macam hal lainnya diluar penggunaan handphone. Ya Allah, ini teguranMu..

Ini teguran, saya tahu. Dan saya senang kalian semua peduli terhadap teguran ini.
terimakasih sebanyak molekul karbon yang menyusun tubuh kalian masing-masing.
terimakasih sebanyak bilangan avogadro
terimakasih setinggi titik leleh fulurene (senyawa terkeras didunia)



Enggar Sari Kesuma Wardhani

Tidak ada komentar: