Segitu aja?

Yak, ini cerita terbaru.
Setelah laptop ini sedikit hang, hipotesis: kemasukan virus dari flashdisk yang numpang ngeprint tadi, dugaan terbesar saat ngeprint file baksos linggau. Oke, bukan itu masalahnya, pokoknya akhirnya saya scan full isi laptop ini, dan itu memakan waktu EMPAT JAM!.

Sambil nunggu, online lah, dan ternyata Adhit lagi online juga (secretary research amsa ina itu loh), dan memang dia sangat sangat hobi online. Lalu saya mulai berguru tentang menjadi secretary of research amsa ina. Cerita panjang lebar, dan kesimpulannya: seru juga. Intinya kita akan berkutat pada riset, riset dan riset baik skala nasional maupun internasional. Project dari AMSC maupun EAMSC, bisa juga melakukan kompetisi riset sendiri. Hidup RISET, haha!

Lalu, kalaupun nanti akan menjabat di posisi itu (amin amin amin), saya sudah membayangkan apa yang akan saya lakukan. Lalu, imajinasi terhenti sampai disitu. Segitu aja? Maksudnya, kenapa saya hanya berkutat pada hal yang itu-itu saja? Yang bisa terjangkau oleh saya, yang sekiranya bisa saya lakukan? Kenapa saya tidak mencoba hal lain? Toh, saya masih muda, masih mahasiswa, masih dimaafkan bila melakukan kesalahan, masih diberikan kesempatan untuk mencoba semua hal yang ada di bumi. Bila saya punya hak untuk melakukan itu, kenapa saya harus berkutat pada hal yang sama? Kenapa saya tidak mengekslor kemampuan dibidang lain? Mungkin saya bisa beradaptasi dengan pola pikir kritisnya anak Kastrad, atau semangat kaderisasi PSDMO, jiwa sosial Pengabdian Masyarakat. kenapa saya masih berkutat di Pendidikan dan Riset?

Lalu saya pun disadarkan pula dengan kalimat saya sendiri:

Saya: apa alasan kamu masuk BEM?
Adik tingkat : karena saya ingin mendapatkan pengalaman organisasi, saya ingin melatih kepemimpinan, saya....
Saya: saya, saya, saya terus! BEM ini bukan untuk kamu, dek. Kamu oportunis!

Jleb, kerasa juga kalimat itu masuk ke pikiran saya. Seberapa tidak "oportunis"kah saya sehingga bisa berkata begitu. Sadar diri dong, Nggar.

Nah, lalu? kalau dikaitkan dengan motivasi, tujuan saya merambah ke bidang lain itu hanyalah egosime dari oportunis-nya saya kan? Saya hanya ingin mengeksplor kemampuan saya. Lalu, saya biarkan organisasi menjadi sarana "coba-coba", "tebak-tebak berhadiah"? Ya Ampun, kamu tega, Nggar.

Lalu harus bagaimana? Apa seperti kata Hadi, menunggu dimana kita dibutuhkan?
Lalu, kapan saya harus menyongsong hal itu? Bagaimana kalau saya tidak dibutuhkan dimana-mana, banyak orang yang bisa menggantikan lebih baik dari saya?

Nah, teman. Saya bingung, jujur saja. Apa ini harus diteruskan atau bagaimana. Saya ingin mencoba hal baru, boleh dong. Adalah hak semua orang untuk bebas memilih. Karena itu pilihlah, Nggar. Dipilih..dipilih..dipilih... (abaikan)

Oke, kita jabarkan dulu SWOT nya, lalu lihat mana yang terbaik. Kalau memang tetap tidak bisa, istikharah. (Jangan anggap remeh istikharah, sholat yang satu ini sangat amat membantu saya di banyak kesempatan memilih). Kesimpulan: ya Ampun Nggar, ribet amat hidupmu. Waya-waya mau milih jadi apa juga, kan kamuj belum tentu diterima, ya dicoba aja semuanya.. ~oleh jiwa pesimis saya.

Yah, wanita memang punya banyak kompartemen baik hati maupun pikirannya, tinggal pilih mana yang paling mau menonjol. Jadi keputusannya apa? #tetep aja ga nemuin jawaban.

Tidak ada komentar: