Bismillah,
Hari ini aku ingin bercerita tentang sisi feminim dalam diriku. Sifat feminim tentu erat kaitannya dengan rasa cinta, dan itulah yang ingin kusampaikan. Tuhan, cinta itu indah! Hmm, mungkin kurang pantas bila rasa ingin serta-merta kunyatakan sebagai rasa cinta, toh aku pun belum terlalu mengerti cinta itu apa. Hanya saja, ada sebuah perasaan khusus yang hanya tertuju pada satu orang saja. Aku tak ingin mengatakannya di sini, ini bukan substansi dalam judul ini.
Nah, mungkin kita langsung saja pada topiknya. Semula rasa ini membuatku merasa tak tenang, benar-benar aneh. Namun, kajian muslimah siang tadi benar-benar menyadarkanku akan sejuknya cinta dalam islam. Awalnya, saat waktunya sholat Jum’at tiba, aku memang menunggu-nunggu KAMUS itu di kelas, sedang bb-an (sebenarnya pinjem bb-nya fadeg) bersama Suryadi Voo, dan Ayu Fadeg. Lalu, Rizka dan Khoti memanggil untuk mengajak KAMUS, dan langsung ku jawab IYA. Aku segera ke sana..
Pematerinya adalah Mbak Rini PDU 2007. Beliau sangat luar biasa. Materi nya adalah “Ya Allah Aku Jatuh Cinta”, sebuah bedah buku dengan judul serupa. Isinya, semua tentang cinta.
1. Tanda-tanda seseorang menyukai kita
2. Tanda-tanda kita menyukai seseorang
3. Patofisiologi cinta
4. Tatalaksana cinta
Patofisiologi cinta ternyata sangat unik. Melibatkan sistem saraf dan hormonal. Sistem saraf ini bersifat sementara, 3-4 tahun, dengan tanda emosi yang menggebu-gebu. Rasa keintiman tinggi, ingin selalu dekat, dll. Nah, setelah lewat 4 tahun, barulah sistem hormonal yang mengambil alih urusan cinta ini. Rasa yang ditimbulkan oleh hormon (endorphin) ini bersifat menenangkan, sama seperti rasa nyaman si kakek bila bersama nenek, meski hasrat cinta sudah tak ada lagi. Nah, karena sistem saraf inilah, rasa menggebu-gebu ketika mencintai seseorang timbul. Perasaan ini, apabila dibiarkan dapat menimbulkan zina. Zina mata, zina hati.. Itulah sebabnya, dalam islam dianjurkan pacaran setelah menikah.
Nah, rasa cinta sesungguhnya halal, teman. Namun, alangkah baiknya bila kita umbar setelah menikah. Maka bila kau tak dapat lagi menahan rasa cintamu, menikahlah. Bila belum siap, redamlah. Bagaimana tatalaksana meredam rasa cinta:
1. Menyibukkan diri, organisasi, perkuliahan, belajar, tugas-tugas. Mungkin inilah yang kulakukan, namun percaya atau tidak, aku masih memiliki bagian lain dari otak dan hati untuk mencintai. Sungguh Allah menciptakan hati dan otak kita dengan penuh bilik-bilik tersembunyi, dimana rasa cinta dapat menyusup, dan mekar di sana.
2. Menghindari barang yang mengingatkan padanya. Contoh SMS, wall FB, tweet nya. Hmm.. ini cukup manjur juga, karena dengan tak adanya barang dengan kenangan akan dirinya, maka dengan sendirinya zina hati tak dapat menyusup. Sungguh zina hati adalah cobaan yang terberat. Setan sungguh pintar memanipulasi ingatan akan penampilannya, seolah segalanya indah. Setankah, atau memang diriku yang seperti mengaguminya.
3. Menghindari bertemu dengannya. Ini akan membuat kita lupa akan kehadirannya, dan sungguh aku telah mencoba mempraktekkannya tadi. And it works, ada beberapa bagian suka yang sepertinya luntur. Apakah ini tanda bahwa aku tak setia?
Manusia, terutama wanita, menyukai lawan jenis. Sebagian besar menyukai seseorang dari penampilan, akhlak, keuangan, karir. Mungkin aku agak sedikit berbeda. Aku percaya karakter seseoranglah yang dapat membuatku kagum, lalu pola pikir, konsistensi, barulah akhlak dan penampilan. Aku pun cukup tertarik pada sosok seorang pemimpin, terutama pemimpin yang bijak dan berpikir kritis. Kira-kira begitulah, ada yang bisa menebak? Haha..
Kesimpulan dari KAMUS tadi ialah, jangan mengejar cinta, karena sesungguhnya cinta tidak perlu dikejar. Temukanlah jodohmu, tapi jangan mencarinya. Jadilah pribadi yang diinginkan, hingga jodohlah yang akan datang pada kita. I. Allah ya Allah. Namun, ketika mengingat kembali, aku tersadar akan sebuah kalimat yang terlontar dari Mbak Rini.
“Jika suatu saat kamu bertemu dengan lawan jenismu, dengan kepribadian yang sama persis dengan dirimu, akankah kamu ingin menikah dengannya?”
Lalu aku menjawab : “TIDAK”
Nah, cobalah lihat, teman. Bahkan diri kita sendiri pun tak ingin menikahi diri kita, apalagi orang lain. Sungguh ini mengingatkan kita bahwa kita harus banyak berbenah diri, menata hati dan penampilan agar menjadi pribadi yang layak untuk dikagumi, layak untuk disukai. Insya Allah, akan segera menuju ke sana.
Sungguh, melihat tatanan cinta ini, aku benar-benar merasa sejuk. Hatiku sejuk menerima bahwa cintaku padanya dapat tersalurkan, nanti. Itu pun bila kita berjodoh, bila pun tidak, maka aku takkan kepalang menyesal. Aku mencintai nya, namun aku jauh lebih mencintai Allah.
Cukup seperti Fatimah mencintai Ali..
Teringat akan status facebook yang dibuat oleh kak Desi, aku baru menyadarinya. Betapa memendam rasa cinta itu sungguh pahala buatku, pahala untuknya. Karena itu, untuk orang yang sedang mengisi pikiranku, aku mendoakanmu.
Ya Allah yang Maha Baik dan Maha Cinta, tiada Tuhan kecuali Engkau.
Aku sungguh memuja-Mu dalam tiap ku berpikir tentang-Mu
Begitu pun penciptaan-Mu ya Allah
Syukur tiada terkita kupanjatkan pada-Mu ya Rabb,
Yang telah berkenan mempertemukan aku dengan sosok yang luar biasa
Penciptaan-Mu yang luar biasa
Pemikirannya sungguh dapat membuatku kagum, ditambah sifatnya yang rendah hati
Aku menyukai sifat pendiam dan baik hatinya itu, Tuhan
Tuhan, karena rasa kekagumanku atas penciptaan-Mu itu, tolong jagalah dia, Tuhan
Dan terima kasih telah mempertemukan dirinya denganku,
Dengan begitu aku dapat belajar darinya
Terima kasih, Tuhan
Kumohon, jagalah dia..
Amin
Selamat malam, my blog. Sungguh kamu luar biasa untukku..
Wassalam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar