Bismillah..
ternyata selama ini dunia saya begitu sempit. Bukan, mata saya yang tak terbuka. Semuanya ada di sekitar saya, saya yang tidak menyadarinya.
Hari ini aku ada di Bali. Tapi rasanya aku sedang tidak di sana. Ini kamarku, aku tinggal sendiri hanya untuk hari ini. Kak desi sedang fokus dengan esainya. Handphoneku tertiggal di Palembang. Aku tahu itu adalah kesalahan yang sangat fatal. Aku tak bisa berkomunikasi. Aku bingung dan selalu memikirkannya. Aku tak bisa berkonsentrasi.
Vivi menenangkan. Sungguh. Dia menganjurkanku untuk berdoa. Sungguh Vivi, terima kasih. Aku sayang Vivi.
Lia bercerita tentang kisah yang lucu, dengan embel-embel “siap-siap patah hati”. Apa maksudnya? Sudah kukatakan berkali-kali, aku hanya “kagum”. Aku hanya kagum karena dia “berbeda”. Mungkin di FISIP sana kalian akan bertemu orang-orang seperti dia, banyak, tak habis-habis. Tapi duniaku adalah FK. Dan di dunia ini orang sepertinya adalah “langka”. Aku suka sesuatu yang langka. Yang tak semua orang memiliki. Karena itu aku merasakan bahwa dia berbeda.
Kak desi telah selesai membuat PPT, aku belum setitik pun. Masih sedikit trauma dengan kejadian IEC ITB kemarin. Sungguh aku benar-benar buruk. Aku takut hasilnya buruk. Aku belum siap menerima sesuatu yang buruk.
Baru ini aku berdiskusi dengan Ali Haidar Syaifullah dan Lucky Sarjono Buranda. Ali adalah temanku sejak SD. Lucky adalah kenalan di Malang, dia Gensec AMSA Untad. Kami berdiskusi tentang esaiku. Dan aku pun menyadari, Ali punya sisi kritis yang selama ini aku lupakan. Sungguh aku lupa dengan sifatnya yang begitu.
Awalnya dia hanya mendengarkan keluhkesahku. Dia menyemangati dengan kepastian. Dia menggampangkan semua permasalahanku. Lalu ketika masuk ke subtansi, dia mulai berpendapat. Kami menganalogikan semuanya.
Indonesia sudah mengalami penyakit sistemik kronis dengan etiologi idiopatik. Telah terjadi proses autoimun dan metaplasia sumsum tulang. Butuh implan dengan segera. Namun terkendala dengan goongan darah yang langka : Pluralisme, Rhesus : multi ras, dan Mn : demokratis. Bila diimplan, maka infark akan menjadi lebih parah lagi.
Sistem sarat aferen Indonesia pun cacat, feedbacknya lama, karena terdiri dari serat C tanpa mielin. Ini pun ditunjang dengan viskositas darah yang tinggi, birokrasi sulit.
Sebagai tatalaksana, mulailah di tingkat seluler. Tiap organel saling peduli, membentuk kerja sinergis menuju satu tujuan. Organel ini adalah mahasiswa, yang berproliferasi membentuk jaringan baru, meski terdapat keterbatasan nutrien.
Indonesia menderita penyakit sistemik, etiologinya adalah gen feodalisme. Mulai dari zaman kerajaan, semua haus akan kekuasaan. Banyak perang saudara dari dulu. Nilai-nilai dasar yang diajarkan di SMA dan Kuliah sudah resisten, karena : (1) religi : kurang iman, (2) sosial : ikut-ikutan yang lain, (3) politik : kekuasaan sama dengan uang.
itulah diskusi kami. Kesimpulan saya:
selama ini saya kagum pada sosok orang yang ada di kelas, ternyata saya menemukan orang yang serupa jauh-jauh hari sebelumnya. Saya yang bodoh tidak menyadarinya. Artinya, dia tidaklah sespesial itu. Dia memang spesia, tapi tidaklah sespesial itu.
Quote terakhir dari Ali adalah:
1. none of us is better than all of us
2. there is no I in TEAMWORK
itu kata-kata yang di-quote nya dari ketua senat FK UI.
aku telah memutuskan untuk bahagia, inilah wujud kebahagiaanku..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar